“Sengsara Membawa Nikmat” oleh Rien Samudiyati

Semakin dalam duka menggoreskan luka ke dalam sukma maka semakin mampu Sang Kalbu mewadahi bahagia

(Kahlil Gibran)

Banyak penderitaan yang kita jumpai di rumah sakit, karena memang rumah sakit penghuninya sebagian besar orang sakit. Hanya saja diantara orang sakit tersebut tidak semua berduka. Yang betul-betul sakitnya serius tentu mengkhawatirkan dan membuat keluarganya bersedih hati. Tetapi ada pula duka yang sudah berganti dengan suka karena sudah tersembuhkan penyakitnya. Dan ada lagi yang lebih gembira sebab penderitaan selama 9 bulan sudah tergantikan dengan sosok mungil seorang bayi. Memang semua itu harus diterima dengan ikhlas sebab sedih dan gembira datangnya dari yang memiliki kita, hanya bagaimana kita menghadapi semua problem yang ada. Dan yang lebih penting lagi manusia seyogyanya berusaha walau tidak boleh lepas dari kata pasrah. Sebab hidup adalah perjuangan yang harus dilewati dengan hembusan napas ridho dan syukur serta selalu penuh harapan.

Terlebih jika mampu mengamalkan sebuah hadist:

“Apabila ditimpa musibah kita bersabar, apabila didzolimi kita memaafkan serta apabila diberi nikmat kita bersyukur, maka sesungguhnya itulah orang-orang yang mendapat petunjuk Allah”

Penulis berjumpa dengan seorang pengangkut sampah. Tampaknya pekerjaan ini adalah termasuk pekerjaan rendah dan kotor padahal sebetulnya termasuk pekerjaan mulia, karena tanpa mereka tidak bisa dibayangkan bagaimana kotornya lingkungan ini. Mendorong gerobaknya… dengan peluhnya bercucuran tanpa rasa rendah diri di tengah ramainya simpang siur kendaraan bermotor. Sesudah tugasnya selesai, tetap dengan baju kuning seragamnya duduk di bawah pohon di dekat TPA menyantap bekalnya. Tidak tampak susah dan tanpa beban kecuali ada kepuasan dan kenikmatan tersendiri.

Padahal pernah penulis datang ke sebuah undangan mewah. Suasana tempat yang sangat bersih dan indah… tentunya. Terlihat seorang kaya namun terlihat tidak dapat menikmati suguhan-suguhan tersebut, mengingat banyaknya makanan yang harus dihindarinya sehubungan dengan penyakit yang dideritanya… Hidup saja kok susah…

Di sinilah tampak ternyata dari kesengsaraanlah timbul kenikmatan. Karena dengan kesabaran dan ketenangan dia menemukan kesenangan dan bukan dengan kesenangan untuk menemukan ketenangan.

Kata ulama:

Keindahan kemiskinan adalah sabar

Keindahan kekayaan adalah bersyukur

Sumber: Rien Samudayati, Bunga Rampai Kehidupan, Bayumedia Publishing, 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s