Dimanakah FOkus Diarahkan?

Orang yang fokus ternyata sering ‘tidak beruntung’. Hehe, benar, terlalu fokus menyebabkan kita tidak beruntung. Sebuah penelitian oleh Wiseman menunjukkan bahwa orang yang terlalu fokus seringkali justru luput dari peluang-peluang yang melintas di depannya. Orang yang gagal menunjukkan ciri sikap yang kaku dan tegang, sehingga perhatiannya hanya terpusat pada fokusnya. Sebaliknya orang yang beruntung, dalam penelitian Wiseman yang ditulis di buku Luck Factor, menunjukkan fleksibilitas dalam memindahkan fokusnya.

Mari kita ambil contoh Ray Kroc pendiri jaringan restoran McDonald’s. Sebenarnya dia adalah salesman hebat dengan rekor penjualan yang bagus untuk peralatan mixer minuman. Ketika dia menemukan McDonald’s pertama kali, dia merasa bahwa peluang menjual burger ala McDonald’s adalah peluang yang sangat bagus. Dia tinggalkan karirnya sebagai salesman alat mixer, dan pindah menjadi ’sales’ burger. Di sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa Ray Kroc tetap fokus menjadi ’salesman’, hanya kali ini fokus produknya adalah jaringan restoran siap saji.

Jadi, dimanakah fokus harus kita arahkan? Jawab : pada peluang terbaik.

Jim Collins dalam bukunya Good to Great mendapatkan bahwa perusahaan yang berhasil menjadi ‘great’ ternyata mengalokasikan sumber daya terbaiknya bukan pada masalah terberat tapi pada peluang terbaik. Alasannya, mengalokasikan sumberdaya terbaik untuk masalah terberat hanya akan menjadikan perusahaan berpindah dari ‘bermasalah’ menjadi ‘baik-baik saja’, artinya tidak banyak peningkatan. Sedangkan bila mengalokasikan sumberdaya terbaik untuk peluang terbaik, maka perusahaan bisa berubah dari ‘baik-baik saja’ menjadi ‘luar biasa’.

Kesimpulan Jim Collins ini tentu selaras dengan guru dia, yaitu Peter Drucker. Drucker adalah penggagas konsep bahwa sumberdaya terbaik harus digunakan untuk menggarap peluang terbaik. Perusahaan harus fokus kepada peluang. Menurut Drucker, pimpinan perusahaan yang baik juga harus fokus pada peluang, dan biarkan wakilnya yang menyelesaikan masalah. Artinya, energi puncak perusahaan adalah fokus pada peluang.

Kita sebagai pribadi pun sama saja. Energi terbaik, kekuatan terbaik, dan talenta terbaik kita, seharusnya diarahkan kepada peluang terbaik. Tentu saja kita tetap harus menyelesaikan masalah-masalah, namun alokasi energi untuk meraih peluang seharusnya lebih banyak.

Pertanyaan berikutnya : jadi apa itu peluang terbaik?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s