“Pasal 335 KUHP Menguji Pasal Keranjang Sampah”

Heddy Lugito, Asrori S. Karni, dan Syamsul Hidayat
[Laporan KhususGATRA, Nomor 20 Beredar Senin 5 April 2003]
Jakarta, 3 April 2003 00:04
”INI perbuatan biadab,” teriak Femmy Permatasari dalam jumpa pers di Kafe Badonci, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis pekan lalu. Artis sinetron ini mengutuk perbuatan orang yang mensyuting saat ia sedang ganti busana, di kamar ganti studio foto Budi Han, Tebet, Jakarta Selatan, sekitar enam tahun silam.

Sudah sewajarnya Femmy marah, lantaran rekaman gambar sontoloyo itu kini beredar luas dalam bentuk VCD. Femmy bersama korban lainnya, Rachel Maryam dan Sarah Azhari, mengadukan kasus ini ke Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya. Mereka berharap pelakunya ditangkap, dan dijatuhi hukuman berat.

Namun, hingga akhir pekan lalu, polisi baru memeriksa Budi Han, 40 tahun, pemilik studio foto tersebut. Dan, Budi pun belum ditetapkan sebagai tersangka. ”Untuk menetapkan dia tersangka atau bukan, kami masih menunggu keterangan saksi korban,” kata Kepala Direktorat Reserse Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Andi Chaerudin.

Jika Budi terbukti merekam gambar para artis tersebut, menurut Andi Chaerudin, pemilik studio foto itu dapat dijerat dengan Pasal 282 atau 335 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Ancaman hukuman dua pasal di KHUP yang dibuat sejak zaman kolonial Belanda –saat belum ada kamera pengintip canggih– itu tergolong ringan.

Terpidana yang terbukti melanggar Pasal 282 KUHP, tentang kesusilaan, hanya dapat dijatuhi hukuman maksimal sembilan bulan penjara, atau denda maksimal Rp 40.000. Sedangkan ancaman hukuman Pasal 335 KUHP, tentang perbuatan tidak menyenangkan, cuma satu tahun penjara.

Sungguh, ancaman pidana itu tak sebanding dengan derita kejiwaan yang dialami para korban. Cuma, anehnya, kendati sudah jatuh banyak korban –umumnya perempuan– tak ada inisiatif dari pemerintah, DPR, ataupun praktisi hukum untuk memprakarsai pembaruan pasal-pasal pornografi dalam KUHP.

Apa boleh buat, Pasal 335 KUHP itulah yang masih digunakan hakim Pengadilan Negeri Pati, Jawa Tengah, untuk menjerat David Hendra. Pria berusia 46 tahun, pemilik rental komputer ”Prima Komputer”, itu terbukti telah mensyuting karyawati yang sedang mandi di kantornya. Awal Oktober 2002, David dijatuhi hukuman penjara empat bulan 15 hari.

David melakukan perbuatan tercela itu dengan memasang kamera pengintai mini pada kusen di kamar mandi yang biasa dipakai karyawatinya. Caranya, kusen dibor dengan diameter 1,5 sentimeter. Lantas, kamera pengintip dibenamkan di situ. Sepintas, tak ada yang tahu kamar mandi itu dipasangi pengintip elektronik.

Kamera tersebut dihubungkan dengan kabel ke kamar kerja David. Di kamar inilah mata David leluasa melahap tubuh bugil karyawati lewat monitor komputer. Lebih dari itu, David juga menyimpan gambar (curian) hasil rekaman kayawatinya yang mandi pada komputer miliknya.

Rekaman mandi bugil itu pertama kali diketahui Tri Rahmawati, 16 Agustus 2002. Ketika itu, pegawai Prima Komputer berusia 18 tahun ini disuruh David Hendra mengetik tabel. Ternyata, Tri mengalami kesulitan. Program tabelnya ngadat.

Ia iseng memainkan mouse, klik sana klik sini. Eh, tanpa sengaja, di layar monitor terlihat gambar gadis bugil. Tri terperanjat karena gadis bugil itu tak lain teman sekantor sendiri. Tak cuma foto bugil. Ada juga rekaman video rekannya sedang mandi.

Keruan saja, Tri memrotes David. Rekan-rekan sekantor sempat heboh pula. David berjanji menghapus file-file itu. Cuma, ada syaratnya: Tri tidak boleh melapor ke polisi. Jika sampai lapor, David mengancam menyebarkan file tersebut melalui internet dan VCD.

Akhirnya, ia melaporkan bosnya ke polisi. David ditangkap dan diadili. Proses peradilan kasus ini tergolong cepat, hanya dua bulan, David sudah divonis pengadilan. Berbeda dengan perjalanan pekara VCD porno casting calon model iklan sabun yang mencuat di Bandung, Jawa Barat, awal Mei 2002.

Hampir setahun kasus ini ditangani polisi, tapi belum terdengar kabar kapan akan disidangkan. Perjalanan perkara VCD porno casting iklan sabun tampaknya terseok-seok, kalau tidak boleh dibilang jalan di tempat. Tak jelas di mana ganjalannya. Bahkan, Goerge Irfan, seorang tersangka yang pernah diperiksa polisi dalam kasus ini, mengaku tidak mengetahui perkembangan perkaranya.

”Saya tidak tahu apakah perkara ini akan dilanjutkan atau dihentikan. Tanya saja kepada polisi,” kata Goerge Irfan, ketika dihubungi wartawan Gatra Sujud Dwi Prastisto lewat handphone, Jumat pekan lalu. Meski perkembangan kasusnya belum jelas, George mengaku siap jika pihak kepolisian ataupun kejaksaan memanggilnya.

”Saya sih hanya menunggu panggilan,” Goerge Irfan menegaskan. George menyatakan, ia terlibat dalam kasus ini karena dijebak Arifin. Pada waktu itu, Goerge cuma dimintai bantuan oleh Arifin untuk meng-casting beberapa gadis calon model iklan sabun. ”Itu semua idenya Arifin. Jadi, yang harus bertanggung jawab, ya, dia,” kata Goerge.

Namun, Arifin membantah keras keterangan George. Ia menyatakan, awalnya casting sabun itu sebenarnya hanya rekayasa. Ide casting itu bermula dari permintaan seorang klien yang ingin dibuatkan foto untuk kalender. Pesanan spesial ini berupa foto-foto wanita cantik dengan pose berani (Gatra, 8 Juni 2002).

Arifin mengaku mengarahkan gaya tiga model. Sisanya, dua model, diarahkan George Irfan. Satu model lainnya diarahkan Dariel Togas. Setelah dilakukan pengambilan gambar, pemesan kalender tak kunjung datang.

Kemudian, Budi Setiawan, selaku agen model yang mendatangkan para gadis itu, meminta Arifin meng-copy hasil rekaman atawa masternya, berbentuk VHS, ke dalam bentuk VHS juga. Jumlah kopian ini ada dua. Yang satu dibiarkan seperti masternya, yang lainnya ditambahi dengan casting tiga model baru.

Budi lalu meminta Arifin mentransfer dua copy kaset itu ke dalam bentuk VCD. Hasilnya masing-masing dua keping VCD berisi enam model dan sembilan model. VCD yang berisi enam model diserahkan Arifin kepada Dariel Togas, dan yang berisi sembilan model dibawa Budi.

Kalau kemudian beredar VCD saru berisi sembilan model, kata Arifin, besar kemungkinan dari VCD milik Budi. Keterlibatan Budi dalam casting sabun ini diperkuat pula dengan keterangan seorang korban casting bodong itu, yakni Melvi Noviza. Gadis cantik berusia 20 tahun ini, didampingi pengacaranya, Desri Novian, mengadukan Budi Setiawan ke Polda Metro Jaya, 23 Mei 2002.

Melvi tidak tampil telanjang dalam VCD casting iklan sabun itu. Tapi, ia mengaku namanya bisa ikut tercemar, karena model lain dalam VCD tersebut ada yang telanjang. Itu sebabnya, Melvi melaporkan Budi dengan tuduhan telah mencemarkan nama baiknya, dan melakukan perbuatan tidak menyenangkan, sebagaimana diatur dalam Pasal 310 dan 335 KUHP.

Delapan bulan lebih Melvi melayangkan pengaduan ke Polda Metro Jaya. Namun, hingga pekan lalu, Desri Novian sebagai pengacara Melvi belum mendengar kabar kasus ini dilimpahkan ke kejaksaan. Pihak Polda Metro Jaya menyatakan sudah melimpahkan berkas perkara tersebut ke kejaksaan, dua pekan silam.

Kepala Bagian Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Prasetyo, menegaskan bahwa ada tiga tersangka yang terlibat kasus VCD porno casting calon model iklan sabun itu. Mereka adalah Budi Setiawan, Arifin, dan George Irfan. ”Kami tidak memeti-eskan kasus tersebut,” kata Prasetyo.

Akankah perjalanan perkara ”pencurian gambar” artis sinetron yang ganti pakaian terseok-seok, seperti kasus VCD porno iklan sabun? Bisa jadi demikian. Menurut pandangan guru besar hukum pidana Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harkristuti Harkrisnowo, kasus ini tergolong agak khusus. ”Agak susah,” kata Harkristuti.

Apalagi, saat ini Indonesia belum memiliki aturan tentang perlindungan privasi alias privacy act. ”Jadi, belum ada aturan yang memberikan sanksi kepada pelanggar privasi. Sementara itu, KUHP kita belum mengakomodasi keluhan masyarakat yang dirugikan privasinya,” tutur Harkristuti.

Ia mengusulkan agar dibuat undang-undang yang spesifik mengatur tentang kejahatan terhadap kesusilaan. Meski saat ini belum ada aturan tentang perlindungan privasi, bukan berarti pencuri gambar artis yang sedang ganti pakaian tak bisa dijerat hukum. ”Dia bisa dikenai Pasal 282 KUHP (melanggar kesusilaan),” kata Harkristuti.

Bisa juga kasus ini, menurut Harkristuti, digolongkan sebagai perbuatan tidak menyenangkan, seperti diatur dalam Pasal 335 KUHP. Hanya, Pasal 335 KUHP sering dijuluki pasal ”keranjang sampah”. Banyak tersangka yang terkena jeratan pasal itu, karena pengertian perbuatan tidak menyenangkan sangat luas.

Menggemaskan, memang. Penanganan perkara yang demikian serius dan meninggalkan trauma seumur hidup bagi korbannya itu amat lamban. Bagaimana seandainya kasus tersebut menimpa adik, istri, atau kerabat para penegak hukum kita?

===========

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s