“335 KUHP Rumahnya Dipasangi Iklan Jual/Lelang, Arsitek Laporkan Balai Lelang ke Polisi”

Penempelan stiker iklan bertuliskan ‘Dijual/Dilelang’ oleh balai lelang atas perintah Bank Mandiri dinilai telah mencemarkan nama baik pelapor.

Anda ingat Agus Bastoni? Pria ini adalah seorang arsitek yang mengajukan gugatan terhadap Bank Mandiri dan Balai Lelang Mandiri (Baleman) beberapa waktu lalu di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Ternyata, selain mengajukan gugatan keperdataan, Agus juga menempuh jalur pidana untuk menyelesaikan perkara ini. Didampingi kuasa hukumnya, Bastoni melaporkan Agus Martowardoyo, Direktur Utama Bank Mandiri dan Syamsu, Direktur Operasional Balai Lelang Mandiri ke Polda Metro Jaya.

Kepada hukumonline, Mohammad Firdaus, kuasa hukum Agus Bastoni menyatakan laporan pidana dilakukan atas dasar perbuatan tidak menyenangkan dan juga pencemaran nama baik. “Aturan yang diduga dilanggar adalah Pasal 335 dan 310 KUHP,” ujar Firdaus.

Setelah lebih kurang tiga bulan, Firdaus agak sedikit kecewa karena proses penyelidikan terhadap laporannya berjalan lambat. “Perkembangan terakhir, proses penyelidikan malah lebih diarahkan ke Baleman. Sedangkan pemeriksaan terhadap Bank Mandiri tidak diprioritaskan,” jelasnya.

Pernyataan Syamsu, Direktur Operasional Baleman, ketika dihubungi hukumonline seakan membenarkan komentar Firdaus. Menurut Syamsu, hingga hari ini, tercatat sudah tiga orang dari pihak Baleman yang sudah diperiksa termasuk dirinya. “Selain saya, Gunawan dan Arief yang memasang stiker juga sudah dipanggil untuk dimintai keterangan oleh penyidik”.

Berdasarkan pengakuan Syamsu, dirinya sempat dihujani berbagai macam pertanyaan oleh penyidik seputar perjanjian kredit antara PT Mersani Budi Kusuma (MBK) dengan Bank Mandiri, hingga penempelan stiker bertuliskan ‘Dijual/dilelang’ di kediaman Basoni.

Mengenai perjanjian kredit, Syamsu menjelaskan, pihak Baleman tidak memiliki kewenangan untuk turut campur. “Perjanjian kredit itu murni antara kreditur (Bank Mandiri) dan debitur (MBK), Baleman tidak terlibat di dalamnya,”  kata Syamsu. Jadi, kata dia, Baleman tidak bertanggung jawab untuk melakukan verifikasi terhadap jaminan kredit debitur.

Lebih jauh Syamsu mengutarakan bahwa tugas dan peran Baleman, sesuai denganMemorandum of Understanding (MoU) antara Bank Mandiri dan Baleman,   terbatas pada proses pelelangan atau eksekusi jaminan debitur yang telah jatuh tempo maupun gagal bayar. Tugas dan peran itu pun terbatas hanya pada tahapan pra-lelang seperti pengecekan lokasi jaminan, pemberitahuan proses pelelangan hingga penempelan stiker lelang di lokasi jaminan. “Untuk proses lelang sendiri menjadi kewenangan KP2LN (Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara),” ucapnya.

Dalam perkara Agus Bastoni ini, Syamsu tidak bermaksud untuk melakukan perbuatan tidak menyenangkan atau bahkan pencemaran nama baik kepada yang bersangkutan. Menurutnya, penempelan stiker ‘Dijual/Dilelang’ dilakukan  telah melalui proses dan mekanisme yang berlaku di Baleman.

“Sebelum ditempeli stiker, kami sudah memberikan tiga kali surat pemberitahuan mengenai rencana eksekusi dan lelang ke alamat Pak Basoni. Atas surat pemberitahuan tersebut, tidak pernah ada tanggapan maupun keberatan, akhirnya ya kami tempeli stiker,” ungkap Syamsu.

Atas pernyataan Syamsu tersebut, Firdaus seperti dalam berkas gugatannya menyatakan bahwa surat pemberitahuan yang dikirimkan Baleman tidak dilakukan secara sah dan patut. “Hanya dengan mengirimkan ke alamat klien kami, namun nama yang dituju dalam surat tersebut berbeda dengan klien kami. Akhirnya surat pemberitahuan tersebut diabaikan,” Firdaus meyakinkan.

Sementara, Darto, penyidik Polda Metro Jaya yang menangani perkara ini, saat dihubungihukumonline, tidak bersedia memberikan komentar lebih jauh seputar hasil penyidikannya dan temuannya dalam perkara ini. Sedangkan pihak Bank Mandiri, belum dapat dihubungi untuk dimintai keterangan.

Seperti disebutkan dalam berita terdahulu, gugatan perdata Agus dilakukan karena Bank Mandiri dianggap melanggar prinsip kehati-hatian dalam mengucurkan kredit yang berakibat pada hampir dilelangnya tanah dan rumah milik Agus di daerah Pamulang. Dalam gugatannya Agus menuntut ganti rugi immateril sebesar Rp5 milyar karena merasa nama baiknya di lingkungan tempat tinggalnya telah tercemar atas penempelan stiker tersebut.

Namun dalam berkas jawabannya, Bank Mandiri dan Baleman menyatakan gugatan Agus prematur, karena belum pernah ada putusan pengadilan yang menyatakan Bank Mandiri dan Baleman bersalah telah melakukan tindak pidana pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan kepada Agus Bastoni.

“Jadi salah satu alasan yang mendorong kami untuk melaporkan ke Polisi adalah ‘tantangan’ para tergugat dalam jawabannya untuk membuktikan telah terjadinya tindak pidana pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan,” pungkas Firdaus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s