Perjuangan Hidup Dua Orang Perempuan

Posted by Erdien | Posted in Cuplikan, Sekedar Cerita | Posted on 14-05-2010

Berikut ini cuplikan kisah nyata yang saya kopas dari blog salah seorang blogger yang saya kagumi, dan saya sudah minta izin narablog tersebut untuk kopas cerita ini. Mudah-mudahan dapat menjadi bahan renungan dan penyemangat hidup, khususnya buat saya sendiri, umumnya buat Sobat yang berkunjung ke sini :)

Dua orang perempuan tampak menembus hujan dan pekat malam. Padahal badai tentu tak mampu ditopang hanya dengan sebuah payung usang yang berkali-kali terlipat diterjang angin. Keduanya tak punya pilihan lain! Keduanya harus tetap menembus badai itu!

Sekarang sudah jam dua dini hari, tak ada satupun kendaraan bermotor yang melintas di jalan sepi yang mereka tempuh. Kalaupun ada, tak mungkin juga mereka menumpanginya. Tak ada sepeser uangpun dalam saku baju mereka yang llusuh.

Perempuan pertama. Seseorang yang renta namun terlihat masih perkasa matanya. Di situ keteguhan terasa. Di situ tekad tersimpan. Untuk sevuah perjuangan yang bernama : hidup! Dia harus tetap berjuang jika ingin anak cucunya tak mati kelaparan. Tapi, seberapa tegarnya dia, malam ini di sudut matanya tak henti menetes air mata yang tak beda dengan geraian hujan di seluruh wajahnya.

Ya, dia berjalan sambil menangis. Tadi sebelum berangkat menembus lebatnya hujan, dia sempat mampir di rumah majikannya. Selama ini dia mengabdikan hampir separuh hidupnya dengan bekerja di rumah majikan tersebut. Malam itu, karena ada sesuatu yang mendesak, dia berharap sang majikan sudi kiranya meminjamkan uang walau sedikit. Nanti bisa dipotong dengan gaji bulan depan, demikian dia memohon. Tapi jangankan uang yang dia terima, malah sebuah bentakan an perkataan yang melukainya, “Sudah kalau kamu minta uang sekarang, lebih baik mulai besok kamu berhenti bekerja saja!”

Seumur hidupnya perempuan ini tidak pernah menangis. Tidak ketika ditinggalkan oleh suaminya ketika anak-anak mereka masih kecil-kecil, tidak oleh segala macam kepahitan yang mendera hidupnya yang miskin. Tapi malam ini dia menangis. Tuhan, ucapnya diantara deras hujan. tidakkah majikanku tidak mempunyai mata dan hati menyaksikan keadaan kami ini?

Perempuan yang berjalan di sebelahnya juga berwajah sembab. Bukan karena menangis, tapi menahan sakit dan nyeri yang seperti tak bisa ditunggu lagi. Menangis. Akh, dia juga tak terlatih untuk itu. Sejak kecil hidup dalam kesusahan dengan sang ibu, tanpa bapak, tanpa saudara, apalagikah yang bisa membuatnya menangis? Suami? Masuk bui hampir setahun yang lalu. Mabuk dan berkelahi dengan sesama pemabuk. Meninggalkannya dengan seorang anak balita yang baru saja menginjak usia satu tahun dan perut yang juga sedang mengandung.

Dan malam ini, hujan ini, seperti tak diindahkan oleh sang jabang bayi untuk menjengukkan wajahnya ke bumi yang susah ini. Perempuan itu telah mati rasa, seperti juga jari-jarinya yang telah kedinginan. Kemanakah sang ibu tercinta akan membawa mereka? Rumah sakit mana yang mau menerima pasien tanpa pakaian bayi sepotong pun? Tanpa baju ganti sehelai pun? Tanpa uang sepeser pun? Tapi dia tak pernah menyangsikan ibunya yang tua itu. Pasti ada arah yang sedang dituju sang bunda dekil, ringkih, namun berhati peri itu.

Kisah di atas belum selesai, kalo Sobat penasaran sama kelanjutannya, silahkan baca Iinsyah’s Weblog :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s